iklan ate

Demi Bisa Makan Bersama Ibunya, Anak SMK Ini Rela Jualan Tisu


Akhirnya, selepas kepergian ayahnya, ibunya bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sebuah bengkel dekat rumahnya.

Upah yang tak seberapa akhirnya membuat Bagus semakin memantapkan niatnya untuk membantu ibunya.

Selanjutnya, ia pun merubah pola pikirnya seperti anak-anak pada umumnya.

Jika anak lainnya mengincar sekolah negeri, Bagus justru mencari referensi sekolah lanjutan dengan waktu yang fleksibel.

Agar tujuannya sejak awalnya untuk membantu ibunya cepat terwujud.

"Akhirnya habis lulus SMP, saya lanjut SMA di Master (Masjid Terminal) atau sekolah gratis untuk anak jalanan. Sebenarnya nilai saya masuk untuk mendaftar di sekolah negeri. Tapi karena dari awal mau bantu ibu, saya sekolah di situ," sambungnya.

Dimulai dengan modal seadanya, Bagus mengawali jualannya dengan berdagang 10 bungkus tisu yang dibeli di warung dekat sekolahnya.

Berjualan tisu menjadi pilihannya ketika melihat teman satu sekolahnya, Umar lebih dulu berdagang di kawasan Beji.

Berbekal izin dari ibunya, 10 bungkus tisu yang dijualnya di hari pertama laku dalam hitungan kurang dari 2 jam.

"Akhirnya sambil belajar berdagang saya sembari menyimpan uang buat modal lanjutan. Dulu kan tisunya sempat saya jual Rp 3 ribu tapi enggak cukup buat biaya makan keluarga di rumah. Ya sudah saya jual Rp 5 ribu baru nutup," katanya.

Belum ada Komentar untuk "Demi Bisa Makan Bersama Ibunya, Anak SMK Ini Rela Jualan Tisu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel